PRESS RELEASE SUMONAR

Sumonar, Festival Video Mapping Pertama di Indonesia

Yogyakarta, 22 Juli 2019 – Video mapping menjadi salah satu bentuk karya seni yang kini memiliki ruang tersendiri di benak masyarakat. Bukan hanya hasil visualnya yang elok serta mampu menyita perhatian banyak orang, seringkali apa yang ingin disampaikan oleh seniman melalui karyanya itu mampu membuka cakrawala baru, di mana hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk manusia di dalam masyarakat. Tak hanya itu, video mapping tidak hanya membahas tentang bagaimana proses penciptaan video, namun di dalamnya pun terdapat ilustrasi musik, 3D desain, arsitektural, script writing dan masih banyak lagi.

Di Yogyakarta sendiri, video mapping sebenarnya telah didengungkan sejak lama oleh para seniman atau orang-orang yang memiliki minat lebih terhadap bidang ini. Pada tahun 2013 lalu adalah awal di mana video mapping disajikan kepada khalayak luas, dan termasuk ke dalam salah satu program yang ada di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), atau pada tahun ini berganti nama menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta.

Secara konsisten program ini terus dilakukan disetiap tahunnya dan mampu membetuk sebuah kelompok kolektif yang fokus mengembangkan hal tersebut dengan nama Jogjakarta Video Mapping Project (JVMP). 5 tahun berjalan video mapping menjadi salah satu program yang disajikan kepada khalayak melalui FKY, di tahun 2018 gagasan yang telah tercipta sejak lama itu akhirnya berdiri sendiri menjadi bentuk festival dengan nama Jogjakarta Video Mapping Festival (JVMF).

Kala itu, festival yang pada awalnya hanya dibentuk untuk skala nasional itu mendapatkan apresiasi yang sangat meriah dari berbagai lapisan di masyarakat. Namun sebutan JVMF tidak mampu mengidentifikasi keberadaan festival ini di dunia internasional. Maka dari itu, di tahun 2019 JVMF pun berganti nama menjadi SUMONAR yang siap diselenggarakan pada 26 Juli hingga 5 Agustus 2019 mendatang dengan tajuk “My Place, My Time”.

Festival Director SUMONAR, Ari Wulu menjelaskan, SUMONAR merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu Sumon dan Sumunar. Sumon sendiri memiliki arti mengumpulkan, sementara Sumunar memiliki makna bercahaya. Kata Ari, pergantian nama dari JVMF ke Sumonar menjadi sebuah hal yang sangat penting untuk bisa menjelaskan identitas dari festival ini kepada masyarakat Indonesia maupun dunia. Perkenalan melalui identitas tersebut dapat menambah keragaman video and art light festival internasional yang telah marak selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Selain itu lanjut Ari lagi, SUMONAR sendiri adalah upaya untuk menjawab kegelisahan manusia atas ruang kota yang dihuninya melalui pertunjukan video dan instalasi seni yang interaktif. Bangunan, tembok, pagar, jembatan, gedung, monumen, dan bangunan lain yang biasanya dianggap sebagai penghalang, bahkan kadang sama sekali tidak dianggap menjadi terlihat, serta memiliki fungsi baru atau fungsi lain di dalam festival ini.

“Dari tahun 2013 hingga 2017, video mapping menjadi salah satu program yang ada di dalam FKY. Dan di tahun 2018, kami berinisiatif membuat video mapping menjadi bentuk festival dan masih di dalam naungan FKY dan cakupannya belum terlalu luas. Festival ini memisahkan diri dari FKY adalah sebagai salah satu upaya agar cakupan festival ini bisa lebih besar lagi. Tidak hanya bagi masyarakat Jogja dan beberapa daerah lain di Indonesia, namun dunia. Maka dari itu, dengan pergantian nama menjadi SUMONAR pun membuat festival ini menjadi festival video mapping pertama di Indonesia berskala internasional,” tutur Ari.  

Untuk pemilihan tema “My Place, My Time” sendiri jelas Ari menjadi sebuah kisah kota yang sedang bercerita tentang dirinya. Di sini pihaknya ingin menggambarkan bagaimana budaya dan manusia yang lahir dari rahimnya bergerak kemudian berkembang dan berubah. Bisa dari bentuk, waktu, wajah , bau, perilaku, bunyi, dan segala hal yang membangunnya. Dan di dalam kehidupannya, kota tak lepas dari kesepakatan yang muncul sebelumnya, dan imbas dari kesepakatan itu yang mampu membentuk dirinya sebagai kota.

“Ada dua prasa yang tersirat di dalam tema “My Place, My Time”. Prasa yang pertama adalah kami di sini hari ini, dan yang kedua adalah kami melihat kota ini dari sudut pandang sendiri. Kota ini terbentuk dari akibat penguasanya, pemerintahnya, senimannya, pelajarnya dan semua lapisan masyarakat yang ada di kota ini. Biasanya suatu kota terwujud setelah konstelasi besar, yang mana mampu membuat kota menjadi seperti ini,” jelas Ari.

Ketua JVMP, Raphael Donny melanjutkan, SUMONAR 2019 akan dilaksanakan di seputaran Kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta, di antaranya seperti di Museum Bank Indonesia, Kantor Pos Yogyakarta dan lainnya. Selama 11 hari penyelenggaraannya besok, tidak hanya seniman-seniman asal Indonesia saja yang akan menyuguhkan karya dalam bentuk pertunjukan video maupun instalasi. Ada beberapa seniman yang berasal dari Makau dan Filipina siap berkontribusi dalam festival ini.

“Sebelumnya kami telah mengirimkan penjelasan tentang tema yang akan digunakan untuk SUMONAR pada tahun ini. Besok mereka (para seniman) akan memaknai bagaimana mereka melihat kotanya. Para seniman yang berasal dari luar Indonesia akan membawa perspektif mereka tentang kotanya masing-masing, yang direalisasikan ke dalam karya yang akan ditampilkan dalam SUMONAR 2019,” papar Raphael.

Papar Ari lagi, dengan diselenggarakannya SUMONAR 2019 pihaknya berharap festival ini akan menumbuhkan gagasan kreatif bagaimana memanfaatkan teknologi yang terdapat dalam video mapping mampu memberikan kontribusi besar terhadap diri manusia. Selama ini manusia tidak pernah terjebak oleh teknologi, melainkan manusia adalah makhluk yang paling berhak menentukan jalannya sendiri.

“Kali ini SUMONAR didukung oleh proyektor laser dari Epson yang berkekuatan hingga 25.000 lumens dengan rasio kontras hingga 2.500.000 berbanding. Dan ini bukan kali pertama bagi Epson mendukung pagelaran video mapping yang ada di Jogja. Tahun lalu misalnya, pada saat kami membuat karya seni digital pada bidang gedung Museum Bank Indonesia Jogja, Epson kami percaya untuk mengkolaborasikan antara mahakarya video mapping dengan teknologi terkini dari proyektor laser milik Epson. Dan kami berharap, semoga hal ini akan menjadi proses kolaborasi yang apik antara SUMONAR dan Epson,” tambah Ari. (*)

Narasumber :

-        Ishari Sahida (Ari WVLV) – Festival Director SUMONAR 2019

-        Hanes – Lepaskendali/JVMP

-        Roby Setiawan – Art Director SUMONAR 2019

-        Sujud Dartanto – Kurator SUMONAR 2019

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ARTIS Video Mapping dan Instalasi SUMONAR 2019 :

Anung Srihadi X Ruly Kawit X Dani Argi

APEMOTION

Chiefy Pratama (NEXT)

Derek Tumala (Philippines)

Doni Maulistya

Eureca Indonesia

Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk

Furyco

Isha Hening X Iga Massardi

Ismoyo R Adhi

JVMP X Febrianto Tri Kurniawan

Kevin Rajabuan

Lepaskendali x Bazzier x Sasi

Lepaskendali x Zianka Media

Lintang KRP x SIR

Luwky

LZYVisual

MöDAR

Raymond Nogueira/Rampage (Macau)

RPTV

Studio Batu

SWIBOWOJ

Uji "Hahan" Handoko

UVISUAL


 PROGRAM ACARA :

1. Tgl 26 Juli 2019, pukul 19.30 – 20.00 WIB : Opening Ceremoy SUMONAR – Pertunjukan Video Mapping di Gedung Museum Bank Indonesia, sekaligus pembukaan pameran video mapping dan media interaktif di Loop Station dan Kawasan Nol Km.

2. Tgl 26 Juli – 5 Agustus 2019, pukul 10.00 – 21.00 WIB : SUMONAR Exhibition – Pameran seni video mapping dan media interaktif di Loop Station dan Kawasan Nol KM.

3. Tgl 1 Agustus 2019, pukul 19.30 – 22.00 WIB : Video Mapping Show – Pertunjukan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia dan bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta.

4. Tgl 4 Agustus 2019, pukul 15.00 – 17.00 WIB : Creative Sharing oleh Ican Agoesdjam & Isha Hening di Loop Station (gratis dengan mendaftar).

5. Tgl 5 Agustus 2019, pukul 19.30 – 22.00 WIB : Closing Ceremony SUMONAR – Pertunjukan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia dan bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta oleh featured artist untuk menutup rangkaian SUMONAR – My Place, My Time. 

*program dapat berubah sewaktu-waktu

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kanal informasi :

IG : @sumonarfest

Website : www.jogjavideomapping.com

Media contact : sumonar.marcom@gmail.com

 


PRESS RELEASE SUMONAR

Lampor, Kisah Legendaris Yang Terlupakan

Yogyakarta, 1 Agustus 2019 – Anjing-anjing menggonggong, burung-burung pun tak kuasa untuk tidak bersuara. Air sungai bergejolak, menandakan akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di mata manusia. Bagi mereka yang peka, suara alat musik pukul akan terdengar yang diiringi oleh suara telapak kaki kuda yang sedang melakukan perjalanan bersama sebuah rombongan dari arah Selatan menuju Utara. Jika sudah seperti itu, seberapa pun beraninya seseorang pasti akan ciut dibuatnya.
Lalu, jendela itu, pintu serta manusia yang ada di luar kediamannya dengan sergap mengunci diri. Di dalam benaknya, mereka tak ingin menyaksikan kejadian yang mengerikan itu tertangkap oleh mata telanjang. Karena kata orang-orang, jika sampai manusia menyaksikan hal itu, mereka tak akan kembali lagi. Jika pun kembali, waras sudahlah tak akan ada lagi di dalam diri mereka seperti sebelumnya. Dan, hal itu coba kembali dikisahkan oleh Anung Srihadi, Ruly “Kawit” Prasetya dan Dani Argi dalam sebuah karya video mapping berjudul “Lampor”.Karya “Lampor” sendiri mereka tampilkan pada Kamis, (1/8/2019) malam dalam festival video mapping SUMONAR 2019 bertajuk “My Place, My Time”. Selain karya dari kolaborasi dari Anung, Ruly dan Dani tersebut, dalam penyelenggaraan
SUMONAR 2019 hari ke tujuh ini juga menampilkan karya video mapping dari Lepaskendali x Bazzier x Sasi berjudul “Moon & Sun”, Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk berjudul “Bias Kota”, Raymond Nogueira/Rampages, MoDAR berjudul “Timeless Dream”, dan juga karya dari Ismoyo Adhi x THMD x Wasis Tanata berjudul “Temu”. Ruly “Kawit” Prasetya menjelaskan, dalam karya kolaborasinya bersama Anung dan
Dani, mereka ingin menyampaikan tentang salah satu kisah mitos legendaris
masyarakat Yogyakarta yang saat ini sudah mulai terlupakan. Ia berkisah, Lampor sendiri adalah pasukan dari laut Selatan yang melakukan perjalanan menuju Utara, yaitu Gunung Merapi. Dalam perjalanannya para pasukan tersebut selalu menggunakan jalur sungai yang membentang di Yogyakarta. Seperti Kali Code, Winongo maupun Bedog.“Sebenarnya kisah tentang Lampor ini adalah kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh orang-orangtua kami dulu ketika kami masih kecil. Namun saat ini, banyak dari anak muda di Yogyakarta tidak mengetahui kisah tentang Lampor yang sebetulnya merupakan cerita yang diketahui secara turun temurun. Melalui karya
video mapping yang kami beri judul “Lampor” juga, kami ingin kembali
mengisahkan cerita ini dengan karya yang kami harapkan akan bisa lebih mudah untuk dicerna oleh masyarakat, terutama generasi mudanya,” tutur Ruly. Tak hanya itu, di dalam karya berdurasi sekitar empat menit tersebut, Ruly Cs memperlihatkan beberapa hal yang bermuatan kritik terhadap sesuatu yang terjadi pada sungai yang ada di Yogyakarta saat ini. Misalnya saja seperti ornamen-ornamen sampah berserakan yang mereka gambarkan di dalam karyanya. Dan hal inilah yang perlu diketahui oleh masyarakat Yogyakarta bahwa sungai bukanlah tempat untuk membuang sampah.
“Misalnya saja kita bayangkan jika Lampor itu memang ada, saat sampah dibuang sembarangan dan bermuara di laut Selatan, para “penghuni” laut Selatan pasti akan marah. Tak hanya itu, dalam kenyataannya jika memang sampah itu dibuang ke sungai, biota-biota di laut pun akan sangat terganggu keberlangsungan hidupnya. Dan kami berharap, melalui karya video mapping “Lampor” ini masyarakat yang tidak tahu tentang kisah ini menjadi tahu dan tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan pada sugai,” jelas Ruly. Tambah Ruly, dalam karya “Lampor” ini mereka pun menggaet Paksi Laras Alit untuk mendramatisir karya tersebut dengan sajian audio yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Kolaborasi perdana beberapa seniman Dipertunjukan kedua karya-karya video mapping dari rangkaian SUMONAR 2019 tersebut, setidaknya disaksikan oleh ratusan pengunjung yang hadir beberapa daerah di Indonesia maupun mancanegara. Aji Wartono, salah satu pengunjung pada malam ini menuturkan, SUMONAR tidak hanya sebagai festival yang menyajikan sebuah karya seni kepada khalayak luas, namun di dalamnya terdapat
kolaborasi dari beberapa disiplin ilmu maupun dari para senimannya.
“Sumonar ini adalah bukti bahwa teknologi modern itu bisa bersinergi dengan budaya yang sudah ada sebelumnya. Hal ini pun merupakan bukti bahwa generasisekarang bisa menyikapi tradisi dengan cara mereka dengan dinamis dan kreatif.
Semua yang dilakukan ini telah membawa budaya mengikuti zaman. SUMONAR harus terus lanjut dan didukung,” tutur Aji. Raphael Donny, Ketua Jogjakarta Video Mapping Project (JVMP) menambahkan,
dalam penayangan karya video mapping pada Kamis (1/8/2019) malam ini adalah momen yang dimanfaatkan oleh para seniman yang ada di JVMP untuk mempresentasikan karya-karyanya kepada khalayak luas. “Dan di kali kedua pertunjukan karya-karya video mapping di Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Indonesia Yogyakarta ini, banyak seniman dan kolaboratornya yang baru pertama kali membuat karya video mapping,” tambahnya.
Selain pertunjukan video mapping, SUMONAR juga hadir dalam bentuk pameran instalasi seni cahaya yang bertempat di Loop Station dan masih terbuka untuk umum hingga tanggal 5 Agustus 2019. Agenda selanjutnya dari SUMONAR adalah Creative Sharing bersama Ican Agoesdjam, Isha Hening dan Kongfoo Motion, yang akan diadakan pada 4 Agustus 2019 di Museum Sonobudoyo. Dan pertunjukan video mapping selanjutnya dilangsungkan pada 5 Agustus 2019 di Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar Yogyakarta sekaligus menjadi Closing Ceremony SUMONAR
2019. Informasi lebih lanjut dapat mengikuti kanal resmi di
www.jogjavideomapping.com dan akun sosmed IG @sumonarfest.(*) Narasumber:
- Ruly “Kawit” Prasetya – Seniman di SUMONAR 2019
- Aji Wartono – Pengunjung SUMONAR 2019
- Raphael Donny – Ketua JVMP
------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIS Video Mapping dan Instalasi SUMONAR 2019 :
Anung Srihadi X Ruly Kawit X Dani Argi
Chiefy Pratama (NEXT)
Doni Maulistya
Eureca Indonesia
Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk
Furyco
Isha Hening X Iga Massardi
Ismoyo R Adhi
JVMP X Febrianto Tri Kurniawan
Lepaskendali x Bazzier x Sasi
Lepaskendali x Zianka Media
Lintang KRP x SIR
Luwky
LZYVisual
MöDAR
MVLTIVERSE [Derek Tumala & Clarissa Gonzales) (Philippines)
Raymond Nogueira/Rampages (Macau)
RPTV
Studio Batu
SWIBOWOJ
Uji "Hahan" Handoko
UVISUAL

PROGRAM ACARA :
1. Tgl 26 Juli 2019, pukul 19.30 – 20.00 WIB : Opening Ceremoy SUMONAR –Pertunjukan Video Mapping di Gedung Museum Bank Indonesia, sekaligus pembukaan pameran video mapping dan media interaktif di Loop Station dan Kawasan Nol Km.
2. Tgl 26 Juli – 5 Agustus 2019, pukul 10.00 – 21.00 WIB : SUMONAR Exhibition – Pameran seni video mapping dan media interaktif di Loop Station dan Kawasan Nol KM.
3. Tgl 1 Agustus 2019, pukul 19.30 – 22.00 WIB : Video Mapping Show –
Pertunjukan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia dan bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta.
4. Tgl 4 Agustus 2019, pukul 15.00 – 17.00 WIB : Creative Sharing oleh Ican Agoesdjam dan Isha Hening di Loop Station (gratis dengan mendaftar).
5. Tgl 5 Agustus 2019, pukul 19.30 – 22.00 WIB : Closing Ceremony SUMONAR – Pertunjukan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia dan bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta oleh featured artist untuk menutup rangkaian SUMONAR – My Place, My Time.
*program dapat berubah sewaktu-waktu
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Media contact : sumonar.marcom@gmail.com
Read More >>
SUMONAR MAPPING SHOW

1 Agustus 2019 | 19.00 WIB | GRATIS - Museum Bank Indonesia
- Kantor Pos Besar Yogyakarta
- Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta

VIDEO MAPPING SHOW
#SumonarArtist
- Anung Srihadi (@theanungs) x Ruly Kawit (@rulykawit) x Dani Argi (@go.ta.mi)
- Fanikini (@fanikini) x Bagus Tikus (@bagustikus) x Kukuh Jambronk (@mbronkmbrink)
- Ismoyo Adhi @ismoyo.adhi x THMD x Wasis Tanata
- Lepaskendali (@lepaskendalilabs) x BAZZIER (@bazzier_graphik) x SASI (@sasi_kirono)
- MöDAR (@resdept)
- Raymond Nogueira / RAMPAGES (@rampages.production) [Macau] 
#SumonarExhibition
- Anung Srihadi (@theanungs) x Ruly Kawit (@rulykawit) x Dani Argi (@go.ta.mi)
- Doni Maulistya (@maulistya)
- Fanikini (@fanikini)
- Ismoyo Adhi (@ismoyo.adhi)
- Lepaskendali (@lepaskendalilabs) x Zianka (@ziankamedia)
- Lintang Radittya (@kenalirangkaipakai) x SIR
- Luwky (@luwky_vj)
- MVLTIVERSE - Derek Tumala (@studioderektumala) x Clarissa Gonzales
- Raymond Nogueira / RAMPAGES (@rampages.production)
- Studio Batu (@studiobatu)
- Uji "Hahan" Handoko (@ujihahan)

#Sumonarfest
#Sumonar2019
#JVMP
#JVMF
#VideoMapping
Read More >>
SUMONAR EXHIBITION

My Place, My Time

26 Juli - 5 Agustus 2019 | 10.00 - 21.00 WIB | di Loop Station Yogyakarta 
@loopstation_yk | GRATIS

#SumonarArtists
.
• Lepas Kendali (@lepaskendalilabs) x Zianka Media (@ziankamedia) - "SSSQUARE V.01"
.
• Doni Maulistya (@maulistya) - "The Useless Monument"
.
• Ismoyo R Adhi (@ismoyo.adhi) - "Kinanti"
.
• Fanikini (@fanikini) - "Light Bathing"
.
• Luwky (@luwky_vj) - "The Square Universe"
.
• Raymond Nogueira / Rampages (@rampages.production) - "flow/er"
.
• Studio Batu (@studiobatu) • Uji "Hahan" Handoko (@ujihahan) - "I Love Bex"
.
• Anung Srihadi (@theanungs) x Ruly Kawit (@rulykawit) x Dani Argi (@go.ta.mi) - "LAMPOR"
.
• MVLTIVERSE. Derek Tumala (@studioderektumala) x Clarissa Gonzales - "Electropicalia".
.
• Lintang KRP (@kenalirangkaipakai) x SIR

#SumonarFest
#Sumonar2019
#Sumonar
#JVMP
#JVMF
#VideoMapping

Read More >>